5 Hal Seputar Makanan, Mitos atau Fakta?

RILIS.KERONCONGANTAR.COM - Hai keronconganers ! Ada berbagai mitos tentang makanan yang beredar luas di masyarakat. Sampai-sampai, mitos-mitos tersebut dianggap sebagai kebenaran. Padahal, sudah ada sejumlah penelitian yang membuktikan bahwa mitos-mitos tersebut keliru. Dirangkum dari berbagai sumber, inilah mitos tentang makanan yang tak perlu lagi kamu percaya!

1. Konsumsi Telur Bikin Kolesterol Naik

Mitos yang ini sudah menjadi kepercayaan sebagian masyarakat sejak lama. Kandungan kolesterol dalam kuning telur memang tinggi, yakni mencapai 200 mg per sajiannya. Fakta inilah yang mendasari mitos ini. Apalagi, kolesterol dianggap berhubungan dengan sejumlah penyakit kardiovaskuler seperti jantung dan stroke.
Faktanya, tidak ditemukan hubungan antara kolesterol pangan yang terkandung di dalam telur dengan meningkatnya risiko penyakit jantung. Telur justru dapat meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) yang bermanfaat bagi kesehatan pembuluh darah. Selain itu, makanan ini juga merupakan sumber protein yang baik dan mampu menjaga asupan kalori harianmu , lho!

2. MSG Memicu Sakit Kepala

Monosodium glutamat atau MSG biasa ditambahkan ke dalam makanan sebagai penguat rasa. Bagi masyarakat modern, MSG dicinta sekaligus dibenci. Dicinta karena masakan terasa kurang nendang tanpanya, dibenci karena konon MSG menimbulkan sejumlah masalah kesehatan, seperti sakit kepala.
Padahal, sakit kepala ini terjadi karena sebagian orang memang memiliki sensitivitas yang lebih tinggi terhadap MSG, seperti halnya ada orang yang alergi dengan makanan tertentu. Selain itu, MSG juga sering digunakan dalam berbagai makanan olahan tinggi kalori dan lemak yang kita tahu kurang baik bagi kesehatan. Jadi, MSG sebenarnya bukanlah sumber dari masalah kesehatan tersebut.

3. Produk Organik Lebih Bergizi Dibandingkan Non-Organik

Bahan makanan organik digarap tanpa bahan kimia maupun pestisida. Lewat proses yang lebih ramah lingkungan inilah banyak orang yang menganggap bahwa produk organik lebih bergizi dibandingkan yang konvensional. Padahal, penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition menemukan bahwa produk makanan organik tidak lebih bergizi dibandingkan yang biasa.
Memang, bahan makanan non-organik dapat mengandung residu bahan kimia. Tapi, belum ada penelitian definitif yang membuktikan bahwa residu ini dapat mempengaruhi kesehatan.

4. Gizi Dalam Sayuran Hilang Saat Dimasak

Beberapa zat gizi yang larut dalam air memang dapat hancur karena panas, misalnya vitamin C. Tapi, nggak semua zat gizi dalam sayuran hilang saat dimasak, kok. Sebagian diantaranya justru meningkat setelah dimasak. Sebagai contoh, senyawa likopen dalam tomat kadarnya dapat meningkat hingga 35% setelah direbus. Likopen merupakan zat yang dapat membantu mencegah kanker. Hal ini juga berlaku untuk zat gizi lainnya, misalnya beta-karoten yang terkandung pada wortel dan jagung.

5. Lemak Bikin Gemuk

Karena takut gemuk, banyak orang yang ogah mengonsumsi lemak. Memang, lemak mengandung lebih banyak kalori dalam setiap gramnya, tapi bukan berarti lemak menjadi penyebab utama kegemukan. Karbohidrat dan gula-lah yang justru kerap menjadi pemicunya.
Selama asupan kalorimu terjaga, mengonsumsi makanan berlemak nggakbikin kamu gemuk, kok. Beberapa jenis lemak seperti asam lemak omega-3 justru penting bagi kesehatan jantung. Selain itu, memasukkan lemak dalam dietmu membantumu kenyang lebih lama, lho.
Nah, setelah mengetahui fakta-faktanya, apakah kamu masih mau percaya dengan mitos-mitos di atas keronconganers?

INGIN ISTIRAHAT MEMASAK TANPA REPOT PESAN CATERING HARIAN SEKARANG DI KERONCONGANTAR.COM YUK